Dayah Darul Munawwarah Kuta Krueng, Bandar Dua, Pidie Jaya, Aceh akan melakukan rapat alumni dan pengukuhan alumni pusat. Acara dipimpin Pimpinan Dayah Darul Munawwarah Abu H Usman Ali (Abu Kuta Krueng) bertempat di aula utama gedung Alumni Dayah Darul Munawwarah, Kamis (5/3). Hal ini sebagaimana diungkapkan Tgk Mujlisal Hasan selaku sekretaris panitia pelaksana. Guru Dayah Kuta Krueng itu menyebutkan acara tersebut juga dirangkaikan dengan launching aplikasi SIM Darul Munawwarah, peresmian Bank Darul Munawwarah (BDM) juga adanya mubahasah LBM bersama alumni. Lebih lanjut, Tgk Mujlis menambahkan peresmian turut mengundang Ketua DPR Aceh, Plt Kepala Kanwil Kemenag Aceh. Dari Pidie Jaya hadir bupati dan wakil bupati, Kapolres, Kemenag, hingga Kadis Dayah Provinsi Aceh.

Sementara itu Rais Am Dayah Darul Munawwarah, Abiya Kuta Krueng berharap, alumni Darul Munawwarah kompak dan solid dalam bergerak di sektor pengembangan pendidikan Islam dan dayah serta kegiataan lain. “Pengukuhan pengurus pusat ini sesuai dengan AD-ART Ikatan Rabithah Alumni Darul Munawwarah yang sudah disusun dan disepakati setahun yang lalu sejak dibentuk tahun 2007 dan ini merupakan pengukuhan kali kedua,” ungkapnya. Terakhir, Abiya berharap setelah pengurus pusat dikukuhkan, sesegara mungkin bisa dilakukan untuk pengurus tingkat wilayah baik kabupaten atau kota se-Aceh sesuai AD-ART Rabithah.

Catatan NU Online, Dayah Darul Munawwarah Kuta Krueng merupakan salah satu dayah terbesar di Aceh yang didirikan oleh almukarram Syech Abu Kuta Krueng yang bernama lengkap Abu Haji Usman Bin Ali. Dia dilahirkan di Desa Kuta Krueng pada tahun 1932. Ayahandanya Tgk M Ali, dan ibunda bernama Ummi Khadijah. Tercatat sebagai anak keempat dari enam bersaudara. Beranjak umur 6 tahun tepatnya 1937, mengecap pendidikan SRI (Sekolah Rakyat Indonesia) di Desa Tanjungan selama 6 tahun hingga 1943. Kemudian melanjutkan pendidikan sekolah dan pesantren secara bersamaan. Pada pagi hingga siang sekolah di SMI Samalanga pada guru Tgk Hamid, Tgk Kaoy, dan Tgk Gade.

Dan malam harinya mengaji kitab kuning kepada seorang ulama yang bernama Tgk H. Abdullah di Kuta Krueng selama tiga tahun (1943-1946). Setelah mengecap pendidikan di SMI tahun 1946, melanjutkan pendidikan agama ke seorang ulama yaitu Tgk Chiek di Reubee yang bernama Tgk Chiek M Amin selama tiga tahun (1946-1949). Kemudidan melanjutkan pendidikan agama ke ulama besar yaitu Tgk Chiek Haji Hanafiah di dayah MUDI MESRA Samalanga (1949-1960). Dari Tgk Chiek Hanafiah mendapat Tarerkat Syathariah dan langsung diangkat sebagai mursyid tarekat, setelah Tgk Chiek Hanafiah berpulang ke rahmatullah pada tahun 1960, mengajar dan belajar di MUDI kepada seorang ulama muda yang tidak lain menantu Tgk Chiek Hanafiah yaitu Tgk Abdul Aziz atau yang biasa dikenal dengan Abon Samalanga. Yang bersangkutan baru selesai menamatkan pendidikan di Dayah Darussalam Labuhan Haji pada seorang ulama besar yaitu Abuya Syech Muda Wali Al-KhaLidy. Dia belajar dan mengajar selama empat tahun (1960-1964). Kemudian pada tahun 1964, mendapat izin dari guru untuk mendirikan pesantren di desa kelahiran yaitu di Kuta Krueng yang diberi nama Dayah Darul Munawwarah. Pada tahun 1965 melangsungkan pernikahan dengan Ummi Khadijah yang tak lain adalah anak dari gurunya yaitu Tgk Chiek H Abdullah. Dari pernikahan ini dianugrahi 7 orang putra dan 1 orang putri, yang keseluruhan anak sekarang mengajar dan Pengurus Pondok Pesantren Darul Munawwarah Kuta Krueng.

Sumber: NU Online

Post Author: Darul Munawwarah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *